Minggu, 30 November 2008

HARIAN UNTUK SANG PANGERAN

Semarang, 20 Januari 2007

Hidupku seperti batu
Yang hanya bisa diam dan membisu
Dan terpaku setiap waktu
Tapi apakah kau tahu hidupku telah hancur?
Iya!pastilah kau semua tahu
Karena batu rentan oleh waktu
Alhasil, aku lapuk!

Namun, aku tahu
Itu semua hanyalah semu
Semu yang selalu menipu hatiku


Semarang, 22 Januari 2007

Ketika angin berdesis menderu
Kupu-kupu terbang bersama debu
Kau ucapkan cinta padaku
Dan disaat itu akupun terima cintamu

Kian lama aku kian tahu
Bahwa diriku tak pernah menyayangimu
Aku sadari bahwa aku keliru
Namun, aku tetap diam membisu

Kini aku telah jauh darimu
Namun, mengapa bayanganmu tiba-tiba muncul dihadapanku?
Dan hati ini seolah terus memanggil namamu
Aku berharap rasa ini akan cepat hilang dan berlalu


Semarang, 18 Maret 2007

Ketika dia tersenyum, semua mata tertuju pada-nya
Ketika dia berjalan, semua bibir mengucap nama-nya
Dan ketika dia bermimpi, semua angan dapat diwujudkan-nya
Bahkan ketika dia bercinta, semua cinta dengan mudah didapatkan-nya
Tidak dengan aku
Di dalam hidupku tidak ada satupun cinta yang berlabuh padaku
Cinta itu hanya sekedar hinggap di hati ini kemudian pergi terbang melayang tanpa melihat sisi ini yang sebenarnya sakit menerima kenyataan ini
Meskipun aku tahu Tuhan tak mungkin tak adil denganku dengan keadaan ini
Tapi,apa aku tak boleh memiliki cinta itu?
Cinta yang bisa dimiliki semua orang?!
Aku sungguh tak mengerti

Detik demi detik telah kulalui dengan tak pasti
Namun tetap aku jalani dengan sepenuh hati
Dan meskipun aku harus menunggu dengan letih, aku akan tetap arungi semua ini demi cinta sejati.........................

Semarang, 18 Maret 2007

Satu titik bahagia lewat dihadapan mata ini
Namun, sekilas kebahagiaan itu telah lenyap bersama rasa pedih dan benci
Dan seketika itu aku tersadar dari bunga tidurku
Bahwa itu semua hanyalah sebuah ilusi yang tak akan pernah aku temui
Dan aku menyadari bahwa kini sudah saatnya aku pergi dari dirinya yang tak mungkin pernah menyayangi diri ini dengan sepenuh hati

Tuhan, tegarkanlah hati ini kala raga dan jiwa ini harus jauh dari sisinya
Dan berikanlah kebahagiaan untuknya kala dia menemukan cinta kasihnya, karena sesungguhnya bahagianya adalah bahagiaku jua.........


Semarang,20 Maret 2007

Satu demi satu
Detik itu ditinggalkan
Jarum runcing yang terus berjalan
Seolah nampak tak letih
Satu langkah menuju perubahan
Hati berdebar untuk itu
Sayang, rasa ini tak sepadan dengan itu
Perih, pedih menyiksa jiwa ini.


Semarang,8 Mei 2007

Nada demi nada kumainkan
Lirik demi lirik kuucapkan
Aku bernyanyi untuk Sang Pangeran
Sang Pangeran yang selalu kunantikan
Tapi.....apakah Sang Pangeran mendengarkan?


Semarang, 8 Mei 2007

Terdengar bisikan angin
Sayup-sayup menyayat hati
Terlihat goresan-goresan pena
Perlahan menusuk batin
Inikah cinta?
Iya. Tapi juga bukan